Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juni 2014

Silent



Aku berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi, hari ini cuacanya sangat panas bahkan hingga sore hawanya masih terasa. Jam menunjukkan hampir jam 6 sore, aku masih menunggu beberapa saat sampai tiba sebuah taksi menghampiri tempatku berdiri, aku segera masuk dan menuju rumah. Setiap sore ba’da ashar dari hari jum’at-minggu sudah menjadi jadwal rutin bagiku untuk mengajar anak-anak mengaji di sebuah surau kecil, terletak di perkampungan kumuh yang mayoritas adalah pemulung dan sebagian bekerja sebagai pedagang kecil. Sudah hampir setahun aku menjalani rutinitas ini, ditengah kesibukan aktifitas kuliah yang padat aku selalu menyempatkan waktu agar bisa mengajar mereka, bertemu dan bercengkrama bersama anak-anak adalah hal yang menyenangkan, ibarat sarana refresing diantara penatnya jiwa yang lelah akibat hiruk-pikuk urusan dunia.

Tak terasa taksi yang aku tumpangi telah berhenti didepan rumah, aku turun kemudian membayar seraya mengucap terima kasih. Kulangkahkan kaki memasuki halaman rumah, terlihat pintu depan rumah terbuka. Seiring langkah yang kian mendekati pintu, mataku mencuri-curi pandang kedalam rumah berusaha mencari tau, ternyata sedang ada seorang tamu. Kulihat abi sedang berbicara dengan seorang laki-laki diruang tamu, aku mengucapkan salam ketika memasuki rumah. Mataku menatap tamu tersebut sekilas seraya tersenyum sambil menundukkan kepala menghadapnya, kemudian aku segera berlalu. Kuhampiri umi yang sedang berada didapur membuatkan minuman untuk abi dan tamu tersebut, karena penasaran dengan tamu tadi maka aku bertanya pada umi.
“ Siapa mi…?”
“Owh…itu Ali anaknya pak Ahmad teman ayah dulu waktu dipesantren, nanti malam dia akan menjemput ayahnya dan kemungkinan malam ini mereka akan menginap disini jadi tolong bantu umi ya untuk membersihkan kamar tamu…”
“Baik umi…”

Umi berlalu dari hadapanku menuju ruang tamu, aku segera memasuki kamar dan merebahkan tubuh barang sejenak. Tiba-tiba entah mengapa bayangan tamu yang kata umi bernama Ali muncul dalam benakku, terbayang wajahnya yang muda… ia terlihat masih seumuran denganku atau mungkin lebih tua beberapa tahun, matanya yang hitam dipadukan dengan alis yang tebal dengan hidung mancung wajahnya pun teduh, tampan. Andai aku boleh menilai dirinya 1-10 aku akan beri dia nilai 9 untuk fisiknya, tapi… apalah artinya fisik yang rupawan jiwa hati tak menawan. Aku tak mengenalnya bahkan tak tau bagaimana sifat dan hatinya, rasanya tak pantas aku menilai terlalu cepat, lagipula ia hanya tamu yang menumpang sesaat disini, aku menghentikan lamunanku.
            Malam harinya setelah makan malam aku langsung masuk kamar, rasa lelah akibat kegiatan yang aku lakukan selama sehari penuh benar-benar menyita tenaga, tanpa sadar aku tertidur dengan pulasnya. Waktu telah melewati sepertiga malam, aku terbangun… kulihat jam didinding kamar menunjukkan jam 3 dini hari, aku memutuskan untuk sholat tahajud. Langkah kakiku terhenti ketika menuju tempat wudhu yang terletak dekat dapur, tepat didepan kamar tamu aku mendengar sayup-sayup suara… suara yang sebelumnya tak pernah aku dengar. Aku diam mematung tanpa gerak, rasanya ingin aku berada lebih lama ditempat yang aku pijak sekarang untuk mendengarkan suara lembut itu. Suara yang mengalun indah nan merdu menguntai kalam-kalamNya, huruf alif lam hingga ya seakan melebur menjadi satu dalam pekatnya malam… dalam heningnya suasana yang kian menambah syahdu. Suara itu… ya suara itu adalah suara Ali yang sedang larut dalam buaian kasih sayangNya, mungkin ia sedang bermunajat dengan Rabbnya.
Aku teringat obrolan dengan umi saat makan malam, umi bercerita mengenai Ali. Dari cerita umi aku mengetahui bahwa ia baru saja pulang ke Indonesia setelah menamatkan S2 di salah satu Universitas terbaik di Mesir, lulus dengan predikat yang membanggakan. Umi yang pada saat itu iseng mencoba menggoda dengan berkata lirih disampingku…
“Dia juga seorang hafizh lo…kurang apa lagi coba?”
Aku hanya tersenyum meski sebenarnya ada desir-desir halus yang merasuk ke dalam relung hati tapi aku tak berani mengungkapkannya. Dan ketika malam ini aku mendengar suara lembutnya membacakan ayat suci, getar-getar itu seakan hadir kembali. Pesonanya tak pelak membuat hidupku serasa memiliki warna baru yang indah namun aku lebih memilih diam, bersembunyi dibalik pesona yang ia punya. Aku terlalu takut untuk sebuah rasa yang tak dapat aku halau bahkan hingga ia pergi, ketika akhirnya ia pamit untuk pulang bersama ayahnya… aku masih diam dan memilih menyembunyikannya rapat dibilik dinding hati.
***
2 tahun kemudian…
Di sebuah toko buku, aku sedang asik memilih buku yang akan aku beli tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang tak jauh dari tampatku berada.
“Hana..!”
Aku refleks menoleh dan betapa terkejutnya aku ketika mengetahui siapa yang baru saja memanggil. Wajah itu… wajah yang sangat melekat di ingatanku, terkadang ia sering hadir dalam lamunan.
“Ali…” suaraku tersendat ketika mengucap nama itu.
“Hana apa kabar?bagaimana keadaan umi dan abi dirumah…?”
“Ehm…Alhamdulillah sehat” aku masih tergagap, debar jantungku seakan berdetak tanpa aturan.
“Syukurlah, O ya bagaimana  dengan kuliahnya? Kalau tidak salah sebentar lagi lulus”
“InsyaAllah bulan depan, tinggal menunggu wisuda. Mohon doanya…”
“Ya..pasti, kita saling mendoakan” ucapnya sambil tersenyum.
“Maaf saya tidak bisa lama-lama karena harus kekampus setelah ini, jika ada waktu silahkan mampir kerumah, mungkin umi dan abi akan senang”
“InsyaAllah kalau ada waktu saya akan mampir ke rumah, titip salam sama abi dan umi ya…”
Sebelum kami berpisah Ali sempat meminta nomor handphone, setelah itu aku pun berlalu. Pertemuan singkat dengan Ali membuat rasa yang hadir 2 tahun silam semakin enggan pergi dari hati. Seiring waktu berlalu hubungan kami semakin dekat meski tak pernah bertemu kembali, namun ia sering menghubungi melalui telepon. Selang dua bulan setelah pertemuan ditoko buku akhirnya ia mengutarakan niatnya.
            “Hana… bolehkah saya bertanya?”
            “Ya silahkan…”
“Untuk saat ini apakah ada seseorang yang dekat denganmu?ehm… maksudku apakah kau sudah memiliki calon atau seseorang yang kau cintai?” terlihat dari nada suaranya ia sangat hati-hati ketika mengucapkannya.
“Seseorang yang aku cintai? Ya… tentu ada, kau ingin tau? Seseorang itu adalah….” Hatiku mulai berbisik, aku takkan mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkan hatiku, tidak untuk saat ini!
            “Jika yang Ali maksud calon suami?saya belum punya…” jawabku lirih.
“Kalau begitu, menikahlah denganku?! Aku sudah bicarakan dengan keluarga mengenai masalah ini dan mereka setuju, Jika kau berkenan secepatnya aku akan datang kepada orang tuamu. Bagaimana…?”, kata-katanya tegas dan mantap.
Aku terpaku ketika mendengarnya, waktu seakan berhenti berputar suhu tubuhku kian meningkat beberapa derajat celcius dan jantungku? Aku merapatkan telapak tangan tepat ke dada dekat jantung, aku takut ia berhenti berdetak karena bahagia yang membuncah.
            “Hana… kau masih disana?halo…halo…”
            “Yaa… aku masih disini”
            “Bagaimana… mau kah kamu…???”, sebelum ia selesai mengucapkan kalimatnya yang sudah menggantung di ujung lidah, aku dengan cepat menjawabnya.
            “Datanglah… aku tunggu kedatanganmu”, akhirnya kata-kata itu meluncur dari bibirku.



***
Dua minggu sebelum acara pernikahanku kesibukan semakin tampak dirumah, aku bahkan sudah dilarang umi untuk tidak sering-sering keluar atau bepergian jauh, namun hari ini adalah jadwalku untuk mengajar anak-anak mengaji. Aku tak ingin melepas tanggung jawab begitu saja maka dengan memelas pada umi aku memohon agar diijinkan, karena tak tega akhirnya umi meluluskan permintaanku. Seusai mengajar seperti biasa aku menunggu taksi ditempat yang sama, entah mengapa suasana ketika sangat sepi. Tanpa aku sadari dari arah samping berjalan tiga orang laki-laki berpakaian preman, wajah mereka sangar dengan tubuh berotot bak algojo. Aku sudah ingin beranjak pergi untuk menghindari namun kalah cepat, mereka manghadang serta mengelilingi tubuhku yang kini gemetar karena takut. Salah satu dari mereka menarik tas yang tergantung di lengan tanganku, aku berusaha mempertahankan sekuat tenaga.
            “Serahkan tasnya… kalau tidak kami tidak segan-segan mencelakaimu!”, akhirnya terjadi tarik-menarik antara aku dengan preman tersebut. Salah satu temannya berusaha menarik tubuhku agar tas yang aku pegang terlepas, tubuhku yang lebih kecil dibandingkan mereka akhirnya tersungkur jatuh, aku berusaha berteriak sekuat tenaga berharap ada yang mendengar dan menolong.
            “Hei… hentikan!!!”, sebuah teriakan terdengar tak jauh dari tempat kami berada.
 Aku menatap laki-laki yang berteriak  tadi. Tanpa menunggu aba-aba, laki-laki tersebut segera menyerang gerombolan preman yang merebut tasku. Mereka terlibat baku hantam, dimenit pertama laki-laki tersebut masih bisa melawan serangan yang dilancarkan oleh preman dan kawan-kawannya namun kekuatan yang tak sebanding 1 lawan 3, membuat laki-laki tersebut kewalahan hingga akhirnya tendangan yang diarahkan ke perut oleh si preman membuatnya terjengkang, tubuhnya terlempar mengarah ke jalan dan pada saat itu tepat dari arah samping melintas mobil.
            “Aliiii awaaaaass….!!!!” Teriakku sekuat tenaga.
            “BRAAAKKK...”
Seketika itu juga jalan yang tadinya kering kini telah basah oleh rembesan darah, aku berlari menghampiri tubuh Ali yang kini tergolek tak berdaya, tak kuhiraukan lagi para preman yang terburu-buru lari begitu pula mobil yang menabrak Ali, mobil itu berlalu dengan cepat.
***
Hari ini merupakan tanggal dimana aku melaksanakan acara pernikahan, menikah dengan orang yang selama ini telah mengajari aku arti cinta, seorang laki-laki yang kudengar suaranya ditengah malam buta melantunkan ayat-ayat penuh cinta, yang ketika aku mendengar namanya membuat hatiku bergetar, laki-laki itu bernama Ali.
Aku masih setia duduk disampingnya dengan balutan busana putih senada dengan jilbab yang aku kenakan, orang-orang tampak ramai berdatangan silih berganti. Harum aroma misk menyebar keseluruh ruangan, entah berasal darimana. Aku menoleh kesamping memandang wajah Ali yang teduh, ia tersenyum seakan tak ada beban. Uminya Ali menghampiri seraya memeluk tubuhku.
“Yang sabar ya nak… umi mohon maaf jika Ali ada salah, relakan kepergiannya dengan ikhlas…”
Aku hanya mampu mengangguk, sekuat tenaga aku menahan air mata yang seakan siap tumpah. Tidak, aku tidak ingin menangis dihadapan orang yang aku cintai meski ini terasa begitu menyakitkan… aku tak ingin melepasnya dengan tetesan air mata. Kembali aku pandangi wajah Ali, kini matanya telah terpejam tubuhnya kaku tertutup kain putih namun terlihat ia begitu damai.
“Tuhan… engkau tau bagaimana rasa ini, rasa yang telah tersimpan sejak pertama kali engkau mempertemukanku dengannya, yang akan ku ucap ketika ia telah halal untuk aku sentuh… namun ternyata rasa ini tak cukup besar dibandingkan rasa sayangMu terhadapnya sehingga kau lebih dulu mengambilnya sebelum aku sempat mengucap kata cinta…”

Setelah kepergian Ali aku berusaha untuk kuat menjalani sisa hari-hari yang aku miliki, telah ku relakan kepergiannya karena aku tau inilah yang terbaik. Melihatnya koma selama hampir 2 minggu pasca tabrakan cukup membuatku tersiksa, hampir setiap hari aku menjenguknya  berharap ia membuka mata dan sadar namun Tuhan berkehendak lain, tepat pada malam sebelum hari pernikahanku ia menghembuskan nafas terakhir.
            Impian yang dulu pernah hadir tak pernah terwujud seiring kepergiannya. Aku tak sempat mengucap cinta layaknya Fatimah Az-Zahra yang mengucap cinta kepada Ali bin Abi Thalib setelah mereka halal dalam ikatan pernikahan. Sejak dulu aku memendam rasa ini dalam diam dan aku benar-benar diam hingga hembusan nafas terakhir.

“Cinta bagiku adalah diam, tanpa suara
Yang tak sempat ku ucap lewat kata
Tersimpan disudut hati yang gelap
Yang hanya mampu tersirat lewat tatap...”
 (Hana)

Banjarbaru, 6.45 pm
Minggu, 5 Mei 2013

Mug Merah Bersuara



Sudah lama mug itu tergeletak disebuah rak, terpajang tanpa ada seorangpun yang berniat membelinya. Mug bundar dengan polesan warna merah terang bertabur bintang, dikedua sisi berhiaskan gambar seorang Putri bermahkota dengan memegang tongkat ajaib. Cukup indah namun karena terletak disudut hampir membuatnya tak terlihat oleh pengunjung toko.  
Seorang gadis berusia 16 tahun sedang melihat kearah rak, ia sedang memilih beberapa mug. Satu per satu di ambilnya yang ia anggap menarik kemudian mendekatkan ke mata untuk melihat lebih teliti, sesekali ditiupnya debu yang menempel di mug tersebut.
Aku merasakan tangan lembut gadis itu menyentuhku, terlalu hangat bagi tubuhku yang telah lama beku oleh suhu ruangan ditoko ini. Betapa aku sangat bahagia bahwa masih ada yang melirikku, aku sangat berharap gadis berambut sebahu ini mau membeliku. Diperhatikannya secara seksama, begitu dekat dengan wajah hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya. Aku merasa minder karena debu yang menempel membuatku tak menarik.
“Huuuuffft… mug ini akan semakin cantik jika dibersihkan.” gadis itu meniupku, menyingkirkan debu yang telah lama melekat. Dan… apa yang baru saja aku dengar?! Oh tidak, dia mengatakan aku cantik. Hatiku seakan berlonjak-lonjak kegirangan. Sesaat setelah gadis itu berucap, aku hanya pasrah dalam genggamannya. Langkah kaki gadis itu perlahan menuju kasir.
            Aku masih setia menemaninya belajar, gadis berambut sebahu mengisiku dengan susu coklat panas, ia meletakkanku dimeja tepat disamping buku yang ia baca. Beberapa saat, dibiarkannya aku tergeletak begitu saja hingga kurasa susu coklat telah menjadi hangat, perlahan ia menyeruput dengan nikmat. Seringkali sesudah membersihkanku, gadis berambut sebahu selalu meletakkanku dimeja dalam kamarnya. Hampir setiap aktifitas yang ia lakukan dalam kamar, aku bisa melihatnya. Mulai dari bangun tidur di pagi hari, berdandan, membaca buku, mengerjakan PR sampai tidur kembali dimalam hari. Tak jarang aku juga dibawa ke ruang keluarga untuk menemaninya menonton televisi. Seperti waktu itu, saat sedang berkumpul bersama beberapa orang teman yang berkunjung ke rumah. Ia membawaku serta yang telah terisi teh hangat. Aku menemaninya saat ia sedang mengobrol dengan teman-temannya, setelah puas mereka melanjutkan dengan acara menonton televisi. Dari atas meja, aku menyaksikan tontotan ditelevisi yang menayangkan adegan orang berjoget. Gadis berambut sebahu bersama teman-temannya tampak tertawa dan menikmati tontotan tersebut, aku sungguh tak mengerti apa yang menarik dari sebuah acara yang hampir sepenuhnya hanya menayangkan pembicaraan yang terkadang isinya saling mengejek dengan diselingi adegan berjoget oleh para pengisi acara dan seluruh penontonnya. Rasanya aku ingin kembali saja ke kamar, tapi gadis itu masih tak beranjak dari tempatnya.
Tak terasa hampir satu tahun aku bersama gadis berambut sebahu, ia begitu baik dan aku merasa telah menjadi sahabat baginya. Hari demi hari kulihat gadis berambut sebahu semakin tumbuh dewasa, satu hal yang kian terlihat perubahannya adalah tingkah laku. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia semakin lama menghabiskan waktunya didepan cermin. Sering aku memandanginya yang sedang memoles wajah dengan berbagai alat make up. Ough! Sebenarnya aku tak terlalu suka melihatnya seperti itu, seharusnya ia cukup sadar dengan kecantikan wajahnya, dan make up itu tak seharusnya ia gunakan di usianya yang masih belia. Makin lama, kusadari bahwa ia mulai sering berada diluar kamar. Ah… aku merasa kesepian.
Ini sudah malam ke sembilan sejak pertama kali aku melihatnya keluar diam-diam melalui jendela kamar. Aku mulai bertanya-tanya tentang apa yang ia lakukan. Saat orang-orang rumah sedang terlelap, gadis berambut sebahu justru sedang sibuk berdandan. 20 menit yang lalu, aku masih bisa melihatnya sedang mematut diri didepan cermin, pakaian yang ia kenakan membuatku ingin berteriak agar ia segera menggantinya dengan yang lebih tertutup, aku takut pakaian yang sedang melekat ditubuhnya itu tak cukup untuk menghalau udara dingin malam. Dengan sangat hati-hati, ia buka kunci jendela, melangkahkan kakinya tanpa suara sedikitpun.
Dini hari sebelum adzan subuh berkumandang, aku dikagetkan oleh sebuah suara. Gadis itu telah kembali dengan langkah sempoyongan, tubuhnya rebah di atas kasur, ia langsung terlelap hingga matahari terbit mengeringkan sisa-sisa embun yang menempel pada daun serta rerumputan.
Sayup-sayup masih bisa kudengar pembicaraan diruang keluarga, suara tangis bercampur dengan teriakan penuh emosi bercampur baur menimbulkan kegaduhan. Aku tak tau apa yang sedang terjadi, namun setelah itu kulihat gadis berambut sebahu masuk kedalam kamar, menutup pintu dengan keras lalu menguncinya. Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuk sembari memeluk bantal, linangan airmata turun berderai membasahi kedua pipinya yang chubby. Ayo… isi aku dengan air putih, lalu minumlah beberapa teguk agar aku bisa sedikit menenangkan dan merasakan kesedihanmu, demikian pintaku kepada gadis berambut sebahu.
Beberapa bulan setelah pertengkaran diruang keluarga, aku kembali mendapati gadis berambut sebahu yang lebih sering menghabiskan waktunya dikamar, namun berbeda jauh seperti dahulu, ia lebih banyak merenung. Wajahnya makin pucat, tak lagi kulihat ia memakai seragam di saat pagi senin sampai sabtu. Seorang wanita yang mirip dengannya sering berbicara dan membujuknya untuk makan. Tak lagi kurasakan saat-saat menemaninya belajar dimalam hari. Diam-diam aku merindukan senyuman dan wajah ceria yang dahulu selalu menghiasinya.
Malam hari semakin dingin dengan derasnya hujan yang turun sejak sore tadi. Isak tangis gadis berambut sebahu tersamarkan oleh bunyi hujan, matanya sembab. Aku terkejut mendengar ia menjerit beberapa kali. Dengan langkah gontai, ia mendekatiku yang terletak diatas meja, mungkin ia merasa haus setelah menangis dan ingin minum untuk menghilangkan dahaga. Tangannya mengarah padaku, tapi… aku tak merasakan sentuhan tangannya. Oh tidak, dia tak berniat untuk mengambilku melainkan mengambil sebuah pisau kecil yang terletak disamping kiri tempat aku berdiri. Aku kira ia ingin mengupas buah, tapi… disebelah tangannya tidak sedang memegang buah. Ia menatap tajam pisau dan sebuah botol kecil, dengan cepat ia mengayunkan pisau itu tepat diatas tutup botol. Sreettt… dengan cekatan terbukalah tutupnya, segera ia mengeluarkan isi dalam botol. Satu per satu pil berwarna putih berada dalam genggamannya, makin banyak sampai berjatuhan ke lantai karena tangannya tak sanggup menampung. Ia kembali mendekatiku, dan kali ini aku benar-benar merasakan sentuhan tangannya. Tak lama setelah ia memasukkan puluhan pil kedalam mulut, ia mendekatkanku ke bibirnya. Sungguh saat itu, aku sedang berteriak kepada seorang gadis yang dulu pernah mengatakan aku cantik untuk tidak membawaku serta sekarat bersamanya. Aku tau, itu hanya sia-sia. Aku masih bisa melihat raut wajahnya yang pucat sebelum akhirnya aku pecah terhempas bersama jatuhnya tubuh seorang gadis di sebuah kamar.


           

Kamis, 06 Februari 2014

Katamu… Kita Tak Sama!


 
Mataku terus tertuju pada handphone yang tergeletak di atas meja, berharap sebuah pesan darinya menyapaku. Sudah beberapa hari ini dia tak ada kabar, menghilang begitu saja… tak biasanya hal ini terjadi. Beberapa kali kucoba menghubungi tapi nomor yang dituju selalu tidak aktif. Aku masih berharap selang beberapa lama namun kian hari kian menyusut hingga lelah itu merasuk aku hanya mampu menguntai sebuah doa agar ia selalu dalam penjagaan-Nya disana.
Aku baru saja hendak berlayar ke alam mimpi, baru beberapa menit rasanya aku terbaring di atas kasur yang empuk ini tapi tiba-tiba sebuah suara membuatku tersadar.
“Beeeppp…”, handphoneku bergetar menandakan ada sebuah pesan baru masuk. Aku yang belum sepenuhnya terjaga akibat rasa kantuk mencoba membaca pesan yang tertera dilayar HP, nomornya sama sekali tak kukenal.
“Ini aku yusuf, maaf beberapa hari ini aku tak bisa menghubungimu. Handphone milikku sekarang ditahan umi, ia marah saat mengetahui kita masih berhubungan meski hanya sekedar lewat handphone. Maaf sudah membuatmu khawatir, ini nomor adikku.”
            Aku segera memahami apa yang sebenarnya terjadi, sambil menatap langit-langit kamar yang kini mulai tampak buram oleh genangan air dipelupuk mata, tanpa mampu aku tahan akhirnya ia jatuh menetes membasahi pipiku yang hangat. Aku yang masih terbaring semakin terbujur kaku, pikiranku menerawang.
            Seharusnya aku sadar sejak awal bahwa tak mudah untuk bisa bersamamu, ketika engkau mengatakan bahwa kita berbeda, aku dan kamu… keluargamu. Meski sebenarnya kamu tak mempermasalahkan dengan keadaanku yang seperti ini tapi reaksi yang ditunjukkan oleh keluargamu terlebih oleh umimu saat kau mengutarakan niat untuk menyuntingku dihadapan mereka dan jawabannya adalah tidak, itu sudah jelas bagiku untuk menunjukkan apa yang kelak akan kita hadapi. Namun engkau membujukku berharap aku mau memberi sekali kesempatan untukmu kembali berusaha, berharap keluargamu mau menerimaku meski akhirnya semua tetaplah sama.
            Aku bangkit dari pembaringan dan terduduk sambil menyadarkan punggungku ke tembok dinding kamar, beban ini kian menambah rasa lelah dalam diri. Kejadian ini membuatku seakan merasa kecil, ada rasa tak adil. Apakah aku hina? Hanya karena aku tak sama… lalu seberapa mulianya kamu dan keluargamu? Hingga menyebabkan kita tak dapat bersama.
Ketika kutanyakan padamu mengapa umimu begitu menentang dan murka padaku…
Katamu… nasab kita berbeda, ingin ku jawab… bukankah kita satu keturunan dari nabi adam dan hawa?
Katamu… dalam darah kamu dan keluargamu mengalir darah Rasulullah saw, bukankah aku juga salah satu dari umat beliau?

Seandainya aku bisa memilih dilahirkan oleh siapa, tentu aku akan memilih dilahirkan sama sepertimu agar kita bisa bersama, tapi… apakah aku punya kuasa untuk itu? letak kuasa itu ada ditangan-Nya dan aku sebagai manusia hanya bisa menjalani apa yang telah ditakdirkan-Nya. Jangan tanyakan bagaimana hatiku saat penolakan demi penolakan menghantam jiwa, tak perlu khawatir… ia takkan hancur dengan mudah karena Tuhan telah menciptanya dalam bentuk lunak, meski akan terasa sakit di awal tapi ia akan mampu untuk memaafkan.
            Aku memilih untuk melepasmu pada akhirnya dan mengalah, bukan karena aku lemah atau kalah tapi aku tak ingin membuatmu terus menentang orang tua dan keluargamu. Dinding pemisah atas nama nasab yang kau kau bangun terkadang membuatku tersudut, terpojok bahkan tak urung membuatku terasa hina… aku menjerit “ Salahkah aku..?!”.
            Mengenalmu membuatku belajar untuk menghargai perbedaan, meski itulah yang akhirnya membuat kita tak mampu bersatu. Adanya perbedaan seharusnya bukan untuk menghinakan melainkan ia dapat menjadi warna yang indah dalam kehidupan, perbedaan adalah sebuah maha karya dari sang pencipta untuk menunjukkan betapa maha kayanya Ia… bayangkan jika semuanya sama tentu akan terasa membosankan. 
            Mengapa manusia masih sanggup saling menghinakan dan merendahkan… saling membanggakan hal-hal yang tak patut, merasa diri paling hebat dan mulia sementara masih memiliki setumpuk dosa. Entahlah… begitu banyak pertanyaan yang tak mampu terjawab. Tapi kemudian aku mengerti bahwa bagaimanapun manusia menghinakan manusia  atau mahluk lain, aku masih punya Tuhanku… Tuhanmu juga, yang sanggup meletakkan kemuliaan kepada siapapun yang dikehendakiNya tanpa pernah memandang ia siapa, darimana, warna kulitnya apa bahkan seburuk apapun masa lalunya. Ketika manusia merasa lebih istimewa hanya karna suatu hal, aku yang katamu berbeda… yang hanya orang biasa toh tetap memiliki kesempatan untuk meraih syurga-Nya, meski aku hanya orang biasa aku pun masih bisa memilih untuk menjadi orang yang baik, meski aku tak dapat memilih dilahirkan oleh siapa… meski aku tak dapat memilih untuk menjadi sama sepertimu… tapi dengan segala perbedaan yang aku miliki, Tuhan telah membentangkan begitu banyak pilihan baik yang dapat aku raih. Meski mungkin tak ada darah Rasulullah saw yang mengalir di dalam urat nadiku seperti layaknya kamu dan keluargamu, aku tetap dapat meraih cintanya… aku tetap boleh berharap untuk mendapat syafaatnya diakhirat kelak.
Disaat Tuhan hanya melihat iman dan taqwa, mengapa manusia justru memilih banyak membeda…?

Banjarbaru, 03.00 pm
Rabu, 17 April 2013