Sudah lama mug itu tergeletak
disebuah rak, terpajang tanpa ada seorangpun yang berniat membelinya. Mug
bundar dengan polesan warna merah terang bertabur bintang, dikedua sisi
berhiaskan gambar seorang Putri bermahkota dengan memegang tongkat ajaib. Cukup
indah namun karena terletak disudut hampir membuatnya tak terlihat oleh
pengunjung toko.
Seorang gadis berusia
16 tahun sedang melihat kearah rak, ia sedang memilih beberapa mug. Satu per
satu di ambilnya yang ia anggap menarik kemudian mendekatkan ke mata untuk
melihat lebih teliti, sesekali ditiupnya debu yang menempel di mug tersebut.
Aku merasakan tangan
lembut gadis itu menyentuhku, terlalu hangat bagi tubuhku yang telah lama beku
oleh suhu ruangan ditoko ini. Betapa aku sangat bahagia bahwa masih ada yang
melirikku, aku sangat berharap gadis berambut sebahu ini mau membeliku.
Diperhatikannya secara seksama, begitu dekat dengan wajah hingga aku dapat
merasakan hembusan nafasnya. Aku merasa minder karena debu yang menempel
membuatku tak menarik.
“Huuuuffft… mug ini akan semakin cantik
jika dibersihkan.” gadis itu meniupku, menyingkirkan debu yang telah lama
melekat. Dan… apa yang baru saja aku dengar?! Oh tidak, dia mengatakan aku
cantik. Hatiku seakan berlonjak-lonjak kegirangan. Sesaat setelah gadis itu
berucap, aku hanya pasrah dalam genggamannya. Langkah kaki gadis itu perlahan
menuju kasir.
Aku
masih setia menemaninya belajar, gadis berambut sebahu mengisiku dengan susu
coklat panas, ia meletakkanku dimeja tepat disamping buku yang ia baca.
Beberapa saat, dibiarkannya aku tergeletak begitu saja hingga kurasa susu
coklat telah menjadi hangat, perlahan ia menyeruput dengan nikmat. Seringkali
sesudah membersihkanku, gadis berambut sebahu selalu meletakkanku dimeja dalam
kamarnya. Hampir setiap aktifitas yang ia lakukan dalam kamar, aku bisa
melihatnya. Mulai dari bangun tidur di pagi hari, berdandan, membaca buku,
mengerjakan PR sampai tidur kembali dimalam hari. Tak jarang aku juga dibawa ke
ruang keluarga untuk menemaninya menonton televisi. Seperti waktu itu, saat
sedang berkumpul bersama beberapa orang teman yang berkunjung ke rumah. Ia
membawaku serta yang telah terisi teh hangat. Aku menemaninya saat ia sedang
mengobrol dengan teman-temannya, setelah puas mereka melanjutkan dengan acara
menonton televisi. Dari atas meja, aku menyaksikan tontotan ditelevisi yang
menayangkan adegan orang berjoget. Gadis berambut sebahu bersama teman-temannya
tampak tertawa dan menikmati tontotan tersebut, aku sungguh tak mengerti apa
yang menarik dari sebuah acara yang hampir sepenuhnya hanya menayangkan
pembicaraan yang terkadang isinya saling mengejek dengan diselingi adegan
berjoget oleh para pengisi acara dan seluruh penontonnya. Rasanya aku ingin kembali
saja ke kamar, tapi gadis itu masih tak beranjak dari tempatnya.
Tak terasa hampir satu
tahun aku bersama gadis berambut sebahu, ia begitu baik dan aku merasa telah
menjadi sahabat baginya. Hari demi hari kulihat gadis berambut sebahu semakin
tumbuh dewasa, satu hal yang kian terlihat perubahannya adalah tingkah laku.
Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia semakin lama menghabiskan waktunya
didepan cermin. Sering aku memandanginya yang sedang memoles wajah dengan
berbagai alat make up. Ough! Sebenarnya aku tak terlalu suka melihatnya seperti
itu, seharusnya ia cukup sadar dengan kecantikan wajahnya, dan make up itu tak
seharusnya ia gunakan di usianya yang masih belia. Makin lama, kusadari bahwa
ia mulai sering berada diluar kamar. Ah… aku merasa kesepian.
Ini sudah malam ke
sembilan sejak pertama kali aku melihatnya keluar diam-diam melalui jendela
kamar. Aku mulai bertanya-tanya tentang apa yang ia lakukan. Saat orang-orang
rumah sedang terlelap, gadis berambut sebahu justru sedang sibuk berdandan. 20
menit yang lalu, aku masih bisa melihatnya sedang mematut diri didepan cermin,
pakaian yang ia kenakan membuatku ingin berteriak agar ia segera menggantinya
dengan yang lebih tertutup, aku takut pakaian yang sedang melekat ditubuhnya
itu tak cukup untuk menghalau udara dingin malam. Dengan sangat hati-hati, ia
buka kunci jendela, melangkahkan kakinya tanpa suara sedikitpun.
Dini hari sebelum adzan
subuh berkumandang, aku dikagetkan oleh sebuah suara. Gadis itu telah kembali
dengan langkah sempoyongan, tubuhnya rebah di atas kasur, ia langsung terlelap
hingga matahari terbit mengeringkan sisa-sisa embun yang menempel pada daun
serta rerumputan.
Sayup-sayup masih bisa
kudengar pembicaraan diruang keluarga, suara tangis bercampur dengan teriakan
penuh emosi bercampur baur menimbulkan kegaduhan. Aku tak tau apa yang sedang
terjadi, namun setelah itu kulihat gadis berambut sebahu masuk kedalam kamar,
menutup pintu dengan keras lalu menguncinya. Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur
empuk sembari memeluk bantal, linangan airmata turun berderai membasahi kedua
pipinya yang chubby. Ayo… isi aku dengan air putih, lalu minumlah beberapa
teguk agar aku bisa sedikit menenangkan dan merasakan kesedihanmu, demikian
pintaku kepada gadis berambut sebahu.
Beberapa bulan setelah
pertengkaran diruang keluarga, aku kembali mendapati gadis berambut sebahu yang
lebih sering menghabiskan waktunya dikamar, namun berbeda jauh seperti dahulu,
ia lebih banyak merenung. Wajahnya makin pucat, tak lagi kulihat ia memakai
seragam di saat pagi senin sampai sabtu. Seorang wanita yang mirip dengannya
sering berbicara dan membujuknya untuk makan. Tak lagi kurasakan saat-saat
menemaninya belajar dimalam hari. Diam-diam aku merindukan senyuman dan wajah
ceria yang dahulu selalu menghiasinya.
Malam hari semakin
dingin dengan derasnya hujan yang turun sejak sore tadi. Isak tangis gadis
berambut sebahu tersamarkan oleh bunyi hujan, matanya sembab. Aku terkejut
mendengar ia menjerit beberapa kali. Dengan langkah gontai, ia mendekatiku yang
terletak diatas meja, mungkin ia merasa haus setelah menangis dan ingin minum
untuk menghilangkan dahaga. Tangannya mengarah padaku, tapi… aku tak merasakan
sentuhan tangannya. Oh tidak, dia tak berniat untuk mengambilku melainkan
mengambil sebuah pisau kecil yang terletak disamping kiri tempat aku berdiri.
Aku kira ia ingin mengupas buah, tapi… disebelah tangannya tidak sedang
memegang buah. Ia menatap tajam pisau dan sebuah botol kecil, dengan cepat ia
mengayunkan pisau itu tepat diatas tutup botol. Sreettt… dengan cekatan
terbukalah tutupnya, segera ia mengeluarkan isi dalam botol. Satu per satu pil
berwarna putih berada dalam genggamannya, makin banyak sampai berjatuhan ke
lantai karena tangannya tak sanggup menampung. Ia kembali mendekatiku, dan kali
ini aku benar-benar merasakan sentuhan tangannya. Tak lama setelah ia
memasukkan puluhan pil kedalam mulut, ia mendekatkanku ke bibirnya. Sungguh
saat itu, aku sedang berteriak kepada seorang gadis yang dulu pernah mengatakan
aku cantik untuk tidak membawaku serta sekarat bersamanya. Aku tau, itu hanya
sia-sia. Aku masih bisa melihat raut wajahnya yang pucat sebelum akhirnya aku
pecah terhempas bersama jatuhnya tubuh seorang gadis di sebuah kamar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar