Senin, 16 Juni 2014

Mug Merah Bersuara



Sudah lama mug itu tergeletak disebuah rak, terpajang tanpa ada seorangpun yang berniat membelinya. Mug bundar dengan polesan warna merah terang bertabur bintang, dikedua sisi berhiaskan gambar seorang Putri bermahkota dengan memegang tongkat ajaib. Cukup indah namun karena terletak disudut hampir membuatnya tak terlihat oleh pengunjung toko.  
Seorang gadis berusia 16 tahun sedang melihat kearah rak, ia sedang memilih beberapa mug. Satu per satu di ambilnya yang ia anggap menarik kemudian mendekatkan ke mata untuk melihat lebih teliti, sesekali ditiupnya debu yang menempel di mug tersebut.
Aku merasakan tangan lembut gadis itu menyentuhku, terlalu hangat bagi tubuhku yang telah lama beku oleh suhu ruangan ditoko ini. Betapa aku sangat bahagia bahwa masih ada yang melirikku, aku sangat berharap gadis berambut sebahu ini mau membeliku. Diperhatikannya secara seksama, begitu dekat dengan wajah hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya. Aku merasa minder karena debu yang menempel membuatku tak menarik.
“Huuuuffft… mug ini akan semakin cantik jika dibersihkan.” gadis itu meniupku, menyingkirkan debu yang telah lama melekat. Dan… apa yang baru saja aku dengar?! Oh tidak, dia mengatakan aku cantik. Hatiku seakan berlonjak-lonjak kegirangan. Sesaat setelah gadis itu berucap, aku hanya pasrah dalam genggamannya. Langkah kaki gadis itu perlahan menuju kasir.
            Aku masih setia menemaninya belajar, gadis berambut sebahu mengisiku dengan susu coklat panas, ia meletakkanku dimeja tepat disamping buku yang ia baca. Beberapa saat, dibiarkannya aku tergeletak begitu saja hingga kurasa susu coklat telah menjadi hangat, perlahan ia menyeruput dengan nikmat. Seringkali sesudah membersihkanku, gadis berambut sebahu selalu meletakkanku dimeja dalam kamarnya. Hampir setiap aktifitas yang ia lakukan dalam kamar, aku bisa melihatnya. Mulai dari bangun tidur di pagi hari, berdandan, membaca buku, mengerjakan PR sampai tidur kembali dimalam hari. Tak jarang aku juga dibawa ke ruang keluarga untuk menemaninya menonton televisi. Seperti waktu itu, saat sedang berkumpul bersama beberapa orang teman yang berkunjung ke rumah. Ia membawaku serta yang telah terisi teh hangat. Aku menemaninya saat ia sedang mengobrol dengan teman-temannya, setelah puas mereka melanjutkan dengan acara menonton televisi. Dari atas meja, aku menyaksikan tontotan ditelevisi yang menayangkan adegan orang berjoget. Gadis berambut sebahu bersama teman-temannya tampak tertawa dan menikmati tontotan tersebut, aku sungguh tak mengerti apa yang menarik dari sebuah acara yang hampir sepenuhnya hanya menayangkan pembicaraan yang terkadang isinya saling mengejek dengan diselingi adegan berjoget oleh para pengisi acara dan seluruh penontonnya. Rasanya aku ingin kembali saja ke kamar, tapi gadis itu masih tak beranjak dari tempatnya.
Tak terasa hampir satu tahun aku bersama gadis berambut sebahu, ia begitu baik dan aku merasa telah menjadi sahabat baginya. Hari demi hari kulihat gadis berambut sebahu semakin tumbuh dewasa, satu hal yang kian terlihat perubahannya adalah tingkah laku. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia semakin lama menghabiskan waktunya didepan cermin. Sering aku memandanginya yang sedang memoles wajah dengan berbagai alat make up. Ough! Sebenarnya aku tak terlalu suka melihatnya seperti itu, seharusnya ia cukup sadar dengan kecantikan wajahnya, dan make up itu tak seharusnya ia gunakan di usianya yang masih belia. Makin lama, kusadari bahwa ia mulai sering berada diluar kamar. Ah… aku merasa kesepian.
Ini sudah malam ke sembilan sejak pertama kali aku melihatnya keluar diam-diam melalui jendela kamar. Aku mulai bertanya-tanya tentang apa yang ia lakukan. Saat orang-orang rumah sedang terlelap, gadis berambut sebahu justru sedang sibuk berdandan. 20 menit yang lalu, aku masih bisa melihatnya sedang mematut diri didepan cermin, pakaian yang ia kenakan membuatku ingin berteriak agar ia segera menggantinya dengan yang lebih tertutup, aku takut pakaian yang sedang melekat ditubuhnya itu tak cukup untuk menghalau udara dingin malam. Dengan sangat hati-hati, ia buka kunci jendela, melangkahkan kakinya tanpa suara sedikitpun.
Dini hari sebelum adzan subuh berkumandang, aku dikagetkan oleh sebuah suara. Gadis itu telah kembali dengan langkah sempoyongan, tubuhnya rebah di atas kasur, ia langsung terlelap hingga matahari terbit mengeringkan sisa-sisa embun yang menempel pada daun serta rerumputan.
Sayup-sayup masih bisa kudengar pembicaraan diruang keluarga, suara tangis bercampur dengan teriakan penuh emosi bercampur baur menimbulkan kegaduhan. Aku tak tau apa yang sedang terjadi, namun setelah itu kulihat gadis berambut sebahu masuk kedalam kamar, menutup pintu dengan keras lalu menguncinya. Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuk sembari memeluk bantal, linangan airmata turun berderai membasahi kedua pipinya yang chubby. Ayo… isi aku dengan air putih, lalu minumlah beberapa teguk agar aku bisa sedikit menenangkan dan merasakan kesedihanmu, demikian pintaku kepada gadis berambut sebahu.
Beberapa bulan setelah pertengkaran diruang keluarga, aku kembali mendapati gadis berambut sebahu yang lebih sering menghabiskan waktunya dikamar, namun berbeda jauh seperti dahulu, ia lebih banyak merenung. Wajahnya makin pucat, tak lagi kulihat ia memakai seragam di saat pagi senin sampai sabtu. Seorang wanita yang mirip dengannya sering berbicara dan membujuknya untuk makan. Tak lagi kurasakan saat-saat menemaninya belajar dimalam hari. Diam-diam aku merindukan senyuman dan wajah ceria yang dahulu selalu menghiasinya.
Malam hari semakin dingin dengan derasnya hujan yang turun sejak sore tadi. Isak tangis gadis berambut sebahu tersamarkan oleh bunyi hujan, matanya sembab. Aku terkejut mendengar ia menjerit beberapa kali. Dengan langkah gontai, ia mendekatiku yang terletak diatas meja, mungkin ia merasa haus setelah menangis dan ingin minum untuk menghilangkan dahaga. Tangannya mengarah padaku, tapi… aku tak merasakan sentuhan tangannya. Oh tidak, dia tak berniat untuk mengambilku melainkan mengambil sebuah pisau kecil yang terletak disamping kiri tempat aku berdiri. Aku kira ia ingin mengupas buah, tapi… disebelah tangannya tidak sedang memegang buah. Ia menatap tajam pisau dan sebuah botol kecil, dengan cepat ia mengayunkan pisau itu tepat diatas tutup botol. Sreettt… dengan cekatan terbukalah tutupnya, segera ia mengeluarkan isi dalam botol. Satu per satu pil berwarna putih berada dalam genggamannya, makin banyak sampai berjatuhan ke lantai karena tangannya tak sanggup menampung. Ia kembali mendekatiku, dan kali ini aku benar-benar merasakan sentuhan tangannya. Tak lama setelah ia memasukkan puluhan pil kedalam mulut, ia mendekatkanku ke bibirnya. Sungguh saat itu, aku sedang berteriak kepada seorang gadis yang dulu pernah mengatakan aku cantik untuk tidak membawaku serta sekarat bersamanya. Aku tau, itu hanya sia-sia. Aku masih bisa melihat raut wajahnya yang pucat sebelum akhirnya aku pecah terhempas bersama jatuhnya tubuh seorang gadis di sebuah kamar.


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar