Rabu, 05 Februari 2014

I JUST WANNA GO HOME




“… Maybe surrounded by, A million people I
Still feel all alone, I just wanna go home
Oh… I miss you, you know…”
( Mungkin aku dikelilingi jutaan orang,
namun kutetap merasa sendiri, aku hanya ingin pulang
Aku merindukanmu, kamu tahu…)

Lagu “Home” miliknya Michael Buble mengalun lembut mengiringi tulisan ini, mendengarkannya membuat hati semakin rindu dengan rumah. Bagi perempuan seperti saya yang harus meninggalkan rumah dan keluarga untuk mengenyam pendidikan dikota lain, rumah tentu menjadi sesuatu yang kadang sangat saya rindukan. Sejauh apapun kaki saya melangkah tempat terbaik untuk kembali tak lain adalah rumah sendiri, karena disanalah tempat saya dan keluarga berkumpul… ada kehangatan yang tak saya dapatkan ditempat lain.
Demi mengejar impian dan cita-cita terkadang seseorang harus rela meninggalkan rumah dan keluarganya, meski terasa berat… toh semuanya harus dijalani karena untuk mencapai sesuatu akan selalu ada pengorbanan yang mengiringinya. Saya teringat beberapa tahun silam saat saya menginjak semester awal perkuliahan, saat itu keinginan untuk pulang ke rumah atau pulkam (Pulang kampung) masih sering hadir dan tanpa banyak pikir setiap ada waktu luang saya dengan segera beranjak dari kota tempat saya menuntut ilmu, mungkin karena awalnya belum terbiasa jauh dari orang tua sehingga rasa kangen sering hadir menggelayuti hati. Seiring berjalannya waktu lambat laun kebiasaan pulkam mulai menyusut, makin naik semester tugas semakin banyak akibatnya tenaga, perhatian dan waktu banyak tersita untuk aktifitas kuliah. Saya mulai mengurangi jadwal pulkam, itu artinya kesempatan untuk bertemu dengan orang tuapun semakin jarang. Ditengah kesibukan serta hari-hari yang terlewati tanpa saya sadari mereka semakin menua.
Bagaimanapun ramai serta asyiknya suasana kota dengan segala hiruk-pikuknya, saya tetap lebih nyaman berada dirumah, saat berkumpul bersama keluarga. Kini di akhir semester, ketika lebih banyak waktu luang karena jadwal perkuliahan sudah tidak ada… saya selalu berusaha menyempatkan waktu untuk bisa menjenguk kedua orang tua. Semakin saya menyadari bahwa waktu akan terus membabat habis masa hidup setiap manusia, saya semakin takut untuk kehilangan waktu-waktu berharga bersama orang-orang yang saya sayangi. Terkadang ada rasa sesal setiap kali saya tidak peka terhadap keinginan orang tua untuk bertemu anaknya. Sering mereka menanyakan kapan saya pulang ketika saya sudah beberapa minggu tidak pulkam, mereka jarang sekali meminta saya untuk pulang secara langsung tetapi seharusnya saya sadar bahwa ketika mereka bertanya kapan pulang saat itu sebenarnya  di dalam hati mereka sedang mengharapkan kepulangan saya. Saya terlalu sering acuh dan tidak perduli padahal saya bisa seperti sekarang justru karena mereka.

Ada banyak hal yang akan selalu saya rindukan dari rumah, disana ada kenangan-kenangan manis yang tercipta bersama saya dan keluarga. Sering saya merasa bersyukur dengan keadaan saya sekarang yang masih sendiri, tanpa orang spesial karena dengan begitu saya banyak kesempatan untuk bersama menghabiskan waktu bersama keluarga, di saat para remaja dan perempuan seumuran saya sedang asik dengan pasangannya masing-masing setiap akhir pekan, saya lebih memilih menghabiskan waktu malam minggu dirumah… saya lebih memilih melewatinya dengan membuatkan secangkir kopi untuk abah, memijit tubuh mama yang lelah, makan malam dan menonton televisi bersama keluarga. Saya lebih menantikan tawaran dari mama untuk menemani saya mengerjakan tugas meski akhirnya beliau akan terlelap disamping saya yang tengah sibuk daripada sebuah tawaran dari seseorang untuk mengajak jalan. Rasanya saya tak perlu kebahagian lain jika bersama-sama mereka saja sudah membuat saya merasakan kebahagian yang tak terkira. Waktu-waktu bersama mereka adalah waktu yang sangat berharga karena saya tak pernah tau apakah besok masih ada… bagi saya ataupun mereka, kita tak pernah tau berapa lama lagi waktu yang tersisa.
Ketika di rumah saya selalu mencuri-curi kesempatan untuk bisa tidur disamping mama, sering saya pandangi wajahnya yang sedang terlelap… saya bisikkan dalam hati tentang mimpi-mimpi yang ingin saya wujudkan untuk membuat mereka bahagia sambil memanjatkan doa dan ketika semuanya telah tuntas, saya akan memeluk tubuhnya dengan erat lalu saya kecup pipinya dengan lembut. Ketika hawa dingin berhembus dan merasuk kedalam pori-pori kulit, akan ada tangan-tangan penuh kasih… sayup-sayup kulihat dari mataku yang setengah terkantup wajah mama atau abah yang teduh sedang menarikkan selimut untuk menghalau dingin yang menyergap tubuhku… aku hanya mampu tersenyum dalam lelap. Sering aku merindukan kata-kata “ding…” (Ading)  panggilan khas dari kakak laki-lakiku, ia saudara satu-satunya yang aku punya. Meski ia lebih sering diam dan terkadang sifat juteknya kumat tapi dia lah yang pernah mengangkat tubuh ini ketika aku terkapar sakit.
Berawal dari rumah aku mengukir kisah… bersama mereka semuanya akan terasa indah, mereka tak pernah mengeluh saat aku hanya bisa memberi susah, saat orang lain mungkin saja meluluh-lantakkan… bersama mereka lah aku mampu bangkit dan menemukan kebahagiaan, ketika ada sebagian orang yang menyakiti… merekalah yang tak pernah henti untuk memberi, saat yang lain meninggalkan bahkan pergi… mereka pula yang akan selalu setia berada disisi. Tuhan… kuhujamkan niat dalam hati untuk bisa memberi arti kehadiranku dalam hidup mereka, demi jerih payah yang telah mereka rasa akan selalu aku haturkan doa yang tak pernah usai hingga akhir masa.
Mimpi-mimpiku menggantung dipelupuk mata sedang menunggu untuk aku segera meraihnya, demi mewujudkannya mungkin aku harus melangkahkan kaki lebih jauh dari tempat yang aku pijak sekarang, semakin jauh meninggalkan rumah. Aku tau akan terasa berat bagi mereka untuk merelakannku pergi jauh, begitu pula diriku. Sanggupkah …?
Seberat apapun itu, aku hanya ingin kalian tau bahwa semua ini kulakukan tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk kalian… dan sejauh apapun langkahku pada akhirnya rumah jua lah tempatku kembali, untuk berkumpul lagi bersama-sama kalian.

“… And I know just why you could not come along with me
That this was not your dream, but you always believed in me…”
( Dan kutahu kenapa kau tak bisa menyertaiku,
ini bukanlah mimpimu… namun kau selalu percaya padaku…)

Banjarbaru, 02.00 am
Senin 22 April 2013


Hidup Tak Semanis Gulali


 
Saat itu saya dengan seorang teman sedang duduk dikoridor kampus sambil bercengkrama. Sudah hampir setengah jam kami duduk disitu, tapi dosen yang kami tunggu tak jua datang. Selang beberapa saat tiba-tiba kami melihat ada seorang kakek penjual gulali, teman saya yang sedang duduk disamping segera menarik-narik baju saya sambil memberi isyarat yang mengarahkan untuk melihat si kakek. Saya menatap langkahnya yang gontai dengan kepala menunduk, terlihat ia berjalan mengarah ke tempat kami duduk. Sesaat saya hanya terpaku melihatnya dan membiarkannya berlalu dari hadapan kami.

“Ssstt…sttt… mpot beli dong gulalinya, kasian tuh si kakek...”, bisik teman disamping yang membuat saya tersadar dari lamunan. Saya segera merogoh tas untuk mengambil uang, untunglah pada saat itu si kakek belum terlalu jauh dari tempat kami duduk karena ada seorang mahasiswa yang terlebih dahulu membeli. Saya segera menghampiri si kakek dan membelinya… setelah itu terlihat beberapa mahasiswa lain juga turut membeli gulali yang dijual si kakek. Saya segera kembali ke tempat duduk dan bercengkrama sambil menikmati manisnya gulali.
“Eh tau ga?! Kakek tadi pernah aku liat sebelumnya… ia pernah berjualan sampai ke tempat tinggalku…” Ungkap teman saya.
“Wah jauh juga ya… kalo dibandingkan dari kampus kita ke rumahmu, lumayan jauh… lha kamu aja biasanya pakai motor kalau mau ke kampus”
“Hu’umh…kasian ya padahal sudah tua…”
Saya menatap punggung si kakek yang kian menjauh, semakin lama saya melihatnya semakin manambah rasa iba. Kakek itu adalah kakek yang beberapa hari lalu juga saya temui dipinggir jalan, saat itu saya hampir melewatkannya begitu saja meski hati sudah terketuk untuk berbuat sesuatu… saya yang sedang menggunakan sepeda motor masih mengikuti langkahnya dari kaca spion, akhirnya hati saya tergerak untuk membeli. Segera saya putar arah untuk mengejar si kakek.
            “Kek,beli gulalinya…”
            “Wah sudah habis nak gulalinya…” ucap si kakek.
Saya pun kemudian berlalu, ada rasa senang dan bersyukur ketika mengetahui bahwa gulali si kakek telah habis terjual tapi juga ada rasa sedih karena saya tak bisa membantu dengan cara membelinya. Akhirnya saya hanya mampu mengucap hamdalah serta menguntai sebuah doa semoga rezeki si kakek pada hari itu lancar. Dan ternyata selang beberapa hari kemudian Allah berkenan mempertemukan saya kembali dengan kakek tersebut dan memberi kesempatan untuk saya bisa membeli jualannya.
Saya merasa salut dengan si kakek, diusia yang sudah tua ia masih mau mengais rezeki dengan berjualan sedangkan sering saya temui orang-orang yang usianya jauh lebih muda bahkan lebih sehat memilih mendapatkan uang dengan cara meminta-minta. Hati saya miris membayangkan kakek tersebut, seharusnya ia menikmati masa-masa tuanya berkumpul dengan sanak saudara… bukan dengan cara bekerja menjajakan jualan dari satu tempat ke tempat lain. Entah apakah ia masih punya keluarga… pikirin itu sempat hadir pula di benak saya. Berbagai macam pertanyaan muncul mengusik ketenangan jiwa, seandainya ia hidup sebatang kara, lalu siapa yang mengurusnya? Apa alasan yang membuat si kakek mau berjualan? Bagaimana jika tidak setiap hari dagangannya laku terjual…?
Ya Allah… saya tak sanggup membayangkannya…
Ditengah kerasnya hidup… saya melihat perjuangan yang luar biasa dari kakek penjual gulali, ia masih mau berusaha meski telah renta. Sementara saya…?!ah rasanya malu jika harus membandingkan diri dengan si kakek, saya masih sering menadahkan tangan kepada orang tua tanpa pernah mau tau bagaimana susahnya mencari rezeki bahkan terkadang saya lupa untuk bersyukur atas rezeki yang telah didapat. Sedangkan kakek tadi harus berjalan kaki puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan beberapa ribu perak, yang mungkin bagi kita nilainya tak seberapa. Meski mungkin jualannya tidak selalu habis terjual setiap hari tapi si kakek tak pernah letih untuk berusaha. Ya… hidup memang tak mudah bahkan ia selalu menuntut perjuangan tanpa pernah mengenal usia. Hidup yang kita perjuangkan bahkan tak selalu manis layaknya gulali yang dijual si kakek. Hidup memang tak selalu manis… semanis gulali…

Banjarbaru, 12.30 pm
Sabtu, 4 Mei 2013


Getar-Getar Doa di Tanah Yaman


Aku masih tepekur dalam diam diatas sajadah, ah… rasa ini kembali hadir tanpa diminta. Seseorang nun jauh disana sering kali menjadi penyebab munculnya sebuah rasa yang tak dapat ku tepis, sebuah rasa rindu yang tercipta oleh karena ribuan jarak yang membentang, terpisah oleh luas samudera, raga kami berada di antara dua benua yang berbeda.
Perkenalanku dengannya berawal dari dunia maya beberapa tahun silam, entah mengapa dari sekian banyak teman, ia begitu menarik perhatianku. Sekilas ku lihat fotonya yang terpampang, sederhana namun wajahnya cukup menarik dengan seulas senyum. Awalnya kami tak banyak berbicara namun seiring waktu entah mengapa akhirnya hubungan kami jadi lebih dekat, meski hanya sekedar obrolan ringan di dunia maya. Dari percakapan kami, kuketahui bahwa pada saat itu ia sedang berada jauh dari tempat tinggalnya. Demi keinginan memperdalam ilmu agama, ia harus rela meninggalkan tanah air. Berada di negri orang dengan keadaan yang berbeda dari negri sendiri, Indonesia… tentu tidaklah mudah terlebih lagi tempatnya menuntut ilmu adalah daerah dengan cuaca yang sangat panas, sejauh mata memandang yang ada hanya hamparan gurun pasir. Dari cerita yang pernah kudengar, keadaan disana kadang sangat tidak bersahabat. Bisa kalian bayangkan bagaimana teriknya, yang seandainya telur dijemur bisa menjadi matang dalam hitungan menit, bagaimana air begitu sulit karena hujan hanya turun dua atau lima kali dalam setahun, dan jika memasuki musim dingin… sehelai selimut takkan mampu menghalau dingin yang menusuk kulit, efek yang ditimbulkan pada tubuh yang tak tahan dengan cuaca ekstrim ini bisa sampai membuat orang mimisan*. Namun, dari sekian banyak tantangan yang mungkin dihadapi… banyak pula hal-hal baik yang dapat ditemui. Panasnya suhu disana mungkin telah tersapu oleh sejuknya kata-kata dari lisan para orang-orang sholeh… mungkin tak terasa oleh karena nilai-nilai islam yang masih terjaga, hujan yang menjadi sangat langka disana telah Allah ganti dengan keberkahan dari doa Sayyidina Abu Bakar Shiddiq di masa lampau. Konon, jaman dahulu Sayyidina Abu Bakar Shiddiq mendoakan warga Tarim dengan tiga hal yaitu semoga kota tersebut menjadi kota yang makmur, air yang berkah serta diperbanyaknya orang-orang sholeh… Dan dengan kekuasaannya Allah, ia mengabulkan doa tersebut sehingga sampai sekarang meski hujan turun hanya beberapa kali dalam setahun namun warga disana tidak pernah kesulitan dalam mendapatkan air. Sungguh Allah maha berkuasa atas segala sesuatu. 
Ia memilih menuntut ilmu di salah satu sudut kota di negeri Yaman, kota kecil yang menjadi bagian dari provinsi Handramaut. Meski kota tersebut keadaannya masih sangat sederhana namun disanalah tempat berkumpulnya para wali dan auliya Allah maka tak heran jika dijuluki sebagai bumi para wali. Jangan membayangkan kehidupan disana yang mewah serta hedonis, cukup bayangkan bagaimana keadaan negara kita di era 80an, itu sudah mewakili tentang kondisi disana. Ya… masih sangat sederhana untuk ukuran sebuah kota di jaman sekarang yang sudah semakin canggih. Ditengah kesederhanaan itu ada hal yang membuat saya tak henti berdecak kagum, bagaimana tidak… saat sebagian besar orang atau negara muslim mulai terseret arus jaman yang kian jauh dari nilai-nilai islam, mereka lah yang dengan kuat memegang teguh  serta menjaga nilai-nilai islam yang kian hari makin luntur. Hal ini  tercermin dari budaya serta perilaku warga kota Tarim, bagaimana mereka selalu bergegas memenuhi panggilan adzan ketika telah berkumandang, mengatur pasar sedemikian rupa agar tak bercampur antara laki-laki dan perempuan, serta wajah-wajah cantik khas arab yang senantiasa terhijab oleh burga dan cadar. Para perempuan disana memang sangat terjaga, mereka tidak diperbolehkan sembarangan keluar. Warga Tarim adalah orang-orang yang ikhlas dan lebih mengutamakan husnudzon kepada sesama maupun sang pencipta.
Aku selalu senang tiap kali mendengar cerita tentang kehidupannya disana, tentang kesibukannya dalam mengaji dan belajar, bahkan terkadang aku iri dengannya. Bagaimanapun lelahnya ia dalam menuntut ilmu namun itu menjadi sesuatu yang amat berharga karena setiap ia mendapatkan ilmu baru maka akan semakin mendekatkan ia pada Rabbnya, sungguh aku iri dan miris ketika menyadari hal itu berbanding terbalik dengan keadaanku disini, jika sudah sibuk dengan tugas kuliah yang ada justru membuatku lupa akan akhirat, sholat jadi tak khusyu karena selalu terbayang tugas yang seakan tak ada habisnya, aku lelah tidak hanya secara fisik tapi juga batin, maka jika sudah seperti itu ingin rasanya berteriak dan mengatakan kepada mereka yang menuntut ilmu agama untuk senantiasa bersyukur, bandingkan dengan kami yang bergelut dengan ilmu dunia. Ya… meski aku percaya bahwa tak ada ilmu yang sia-sia selama membawa kebaikan tapi tetap saja akan berbeda rasa.
Suatu hari pernah ia bercerita tentang orang-orang disana, ketika sedang berjalan disebuah pasar, ia melihat sesosok laki-laki dengan tas cangklong dan pakaian yang lusuh sedang berjalan, seandainya orang yang tak mengetahui siapa dia mungkin akan mengira hanya orang biasa, padahal kenyataannya laki-laki sederhana dengan tas cangklong itu adalah seorang mufti*. Selain itu ada pula beberapa kuli bangunan yang ternyata mereka telah hafal beberapa juz al-qur’an, Subhanallah… setiap mendengar kisah tentang orang-orang disana semakin membuat keimananku bertambah, selalu ada ibrah yang dapat diambil. Tak heran mengapa Allah melimpahkan berkahnya ditanah tersebut. Sungguh betapa beruntungnya ia bisa berkumpul dengan orang-orang sholeh dan belajar ditempat yang penuh berkah. Ilmu yang diperoleh dari guru yang sanadnya terhubung dengan Rasulullah saw, tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti itu. Bagaimana aku tidak kagum, ia masih muda dan memiliki pengetahuan agama. Jika dibandingkan denganku, rasanya hanya akan membuat diri sendiri malu. Menurutku ia berbeda dengan kebanyakan pemuda disini, saat orang lain sedang sibuk menikmati masa mudanya dengan hura-hura, disana mungkin ia sedang berkutat dengan kitab-kitab untuk menelaah atau belajar ilmu fiqih, saat kutanya tentang sebuah tafsir al-qur’an dengan rendah diri ia mengatakan bahwa ia tak berani untuk menjelaskan karena tidak sembarangan orang boleh menafsirkan ayat al-qur’an. Sedangkan disini banyak orang-orang atau pemuda yang dengan mudahnya mengaluarkan dalil-dalil atau ayat-ayat hanya karena merasa sudah paham tentang agama lalu dengan seenaknya berkata-kata, padahal ia sendiri belum tentu paham akan maknanya.
 Seiring waktu berjalan, pelan tapi pasti… pertemanan yang telah terjalin memunculkan rasa yang indah dihati, aku tak berani mengatakan itu cinta namun sebuah kebohongan jika kukatakan aku tak menyukainya. Entah bagaimana bermula, rindu itu kadang-kadang merasuk kalbu jika aku lama tak bertegur sapa atau sekedar mengetahui kabarnya. Makin lama, ia makin mengurangi intensitasnya hadir di dunia maya karena memang peraturan ditempat ia belajar melarang penggunaan handphone atau internet setiap hari. Aku berusaha memahami kondisinya meski harus menahan rasa rindu sekuat tenaga… dan sapaannya akan menjadi sesuatu yang sangat kunantikan.
Jika sudah terlalu lelah menahan segala rasa yang kupendam untuknya, aku hanya mampu menguntai bait-bait doa yang kupanjatkan setiap usai sholat, melalui doa kutitipkan ia kepada sang Maha Penjaga Segalanya. Entah mengapa setelah berdoa beban yang tadinya berat terasa ringan seketika. Mungkin hanya dengan inilah caraku menyayanginya, dengan saling mendoakan dalam kebaikan meski berjauhan… berharap doa yang kuucap lirih dihadapan-Nya dijabah. Sengaja kusembunyikan, rasanya tak perlu menunjukkan bahwa aku selalu menyematkan namanya ketika tanganku tengadah memohon doa karena aku percaya doa yang tersembunyi lebih maqbul daripada doa yang diketahui. 
Allah memang selalu mendengar dan mengetahui, ia tak mengabaikan apa yang aku pinta, ini semakin ku yakini saat kejadian yang sama terjadi berulang kali. Pernah dulu, ketika seusai shalat ashar kusempatkan memanjatkan doa untuknya yang jauh disana, dengan lirih dipenghujung doa ku ucapkan “Allah… aku merindukannya, jaga dia dan berkahi ilmunya”, sekedar melegakan rasa sesak yang menghimpit oleh rasa rindu. Entah sudah berapa bulan lamanya ia tak ada kabar. Selang beberapa menit berlalu, aku diam sambil duduk ditepi tempat tidur, iseng ku buka inbox untuk mengecek pesan yang masuk. Aku terperanjat membaca pesan yang baru saja muncul, “Hei…apa kabar?”. Singkat tapi mampu membuat tubuhku diam mematung, sambil mengerjapkan mata aku baca berulang-ulang untuk meyakinkan diri bahwa aku tak salah, aku memang tak salah melihat… pesan itu memang darinya. Seketika ada bahagia yang menyeruak, hatiku rasanya berubah menjadi ice cream yang manis dan dengan sekejap meleleh. Mungkin terkesan sepele bagi orang lain, ah… tapi bagiku?! Kecil saja, tapi itulah… Tuhan selalu punya cara yang unik untuk membuat hambanya bahagia. Kejadian seperti ini tidak hanya sekali namun terjadi berulang kali. Apakah suatu kebetulan? Aku pikir tak ada kebetulan yang terjadi berulang kali, dan tak ada suatu kejadian pun yang terjadi tanpa seizin-Nya.
Peristiwa lain terjadi tepat pada bulan ramadhan, saat subuh baru saja berlalu dan mentari mulai menampakkan sinarnya… saat aku usai menutupkan halaman al-qur’an yang baru saja ku baca. Dalam kesendirian tiba-tiba saja ia muncul dibenakku, pikiranku melayang jauh ke negri sebrang tempat ia berada, aku terhenyak. Dering telpon membuatku tersadar dari lamunan dan kemudian tanganku refleks meraihnya. Aku sempat bertanya dalam hati, siapa yang menelpon sepagi ini. Kucoba saja menjawab, sayup-sayup terdengar suara diujung telpon sana, suara laki-laki dan ketika aku menyadari siapa yang sebenarnya menelpon, seketika getar itu hadir. Aku hanya mampu tersenyum. Rasanya baru beberapa detik yang lalu terbayang dan dalam sekejap Allah menghadirkannya, betapa aku bahagia bisa mendengar suaranya… mendengar kabar bahwa ia baik-baik saja disana, aku tau tak mudah baginya untuk bisa menghubungiku melalui telpon karena ketatnya peraturan serta biaya yang mahal untuk melakukan telpon ke luar negri, dan itu membuatku semakin bersyukur karena ia masih menyempatkan waktu untuk tetap menjaga tali silaturrahim. Takkan sanggup aku menggambarkan rasa bahagia pada saaat itu, namun melalui syukurlah caraku berterima kasih kepada Allah atas segala doa yang ia kabulkan, atas segala pinta yang ia penuhi.
Doa ibarat tetesan-tetesan air ditengah padang tandus, memberi kekuatan saat diri kian lelah, doa adalah cara yang indah untuk kita berbicara dengan-Nya. Tak salah rasanya jika ada sebuah hadist yang mengatakan bahwa senjata orang mukmin adalah doa. Saat kita terhimpit oleh kesusahan maka doa akan menjadi secercah harapan untuk sebuah keajaiban, doa adalah cara kita meminta kepada Allah tanpa harus merasa malu atau sungkan karena betapa Allah menyenangi orang-orang yang banyak berdoa, dengan berdoa kita merasakan keberadaan-Nya… percaya akan kekuasaan-Nya.
Dulu… setiap aku merindukannya maka akan ku bawa namanya dalam setiap doa-doa, mungkin… doa pula yang mampu membuatku bertahan memendam segala rasa yang ada. Doa adalah wujud lain dari caraku menyayanginya, yang ketika lirih ku bisikkan pada Rabbku… ia seakan membelai-belai hatiku yang bisu. Saat rindu terasa begitu kejam menyiksa batin, doa menjadi penghalau segala resah… ia adalah secuil asa ditengah keyakinan yang kian menipis. Doa akan selalu menjadi perisai bagi diri dari segala hal buruk yang mungkin saja terjadi.

Mufti    = Ulama yang memiliki wewenang untuk menginterpretasikan teks dan memberikan fatwa kepada umat.
Mimisan= Suatu keadaan pendarahan dari hidung yang keluar melalui lubang hidung

(Dalam Antalogi Keajaiban Doa)

Ajarkan aku untuk menjadi kuat



 
Saat itu umurnya belum genap 2 tahun, ketika ia sedang mulai belajar untuk berjalan...Dimana orang-orang disekitar begitu sayang dan gemas padanya. Ia masih terlalu kecil untuk menghadapi kejadian pada hari itu. Ayahnya yang sedang dalam perjalanan menggunakan sepeda motor bertabrakan dengan dua buah truk dari arah depan dan belakang hingga menyebabkan gegar otak dan patah tulang, koma dalam beberapa jam namun tak cukup kuat bertahan hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
            Ia yang pada saat itu berada dalam pelukan ibunya hanya bisa menggapai-gapai dengan tangan kecilnya sembari bergumam lirih “abah...”, menatap seseorang yang telah terbujur kaku dengan berlumuran darah, sang ibu hanya mampu meneteskan air mata.
Dalam usia yang begitu muda ia sudah harus merasakan kehilangan.
Seiring dengan berjalannya waktu, si ibu memutuskan untuk menikah lagi dengan pertimbangan berbagai faktor terlebih karena anaknya masih kecil dan memerlukan sosok ayah. Perkawinan mereka bertahan selama beberapa tahun hingga akhirnya kejadian itu terulang kembali, ketika sang anak duduk di bangku sekolah dasar kelas 5. Serangan jantung mengakibatkan ayah tirinya meninggal secara mendadak, tak ada yang menyangka karena sebelumnya tak ada keluhan sakit dan semuanya terlihat baik-baik saja. Ya Allah... kembali adik kecilku yang lucu harus menghadapi kehilangan sosok yang ia sayangi. 

Pada hari ayah tirinya meninggal, ia terlihat biasa-biasa saja...hanya diam namun tak terlihat air mata mengalir dari kedua matanya yang bening padahal orang-orang sangat iba terhadap dirinya. Aku sempat berfikir bahwa dia baik-baik saja dan tak terlalu sedih bahkan setelah kejadian itu ia kembali seperti sediakala, bermain dan tetap ceria...sampai suatu ketika seusai ia pulang sekolah dan mampir ke rumahku. Aku yang biasanya memang suka “mengacak-acak” isi tasnya sembari membuka buku catatannya, awalnya hanya iseng sekedar ingin tahu nilai-nilai yang ia dapat...lembar demi lembar aku buka dari sebuah buku, sontak mataku tertuju pada sebuah kalimat “saya sedih ketika ayah saya meninggal...”
Jleb...seakan ada sebuah benda tajam yang menusuk tepat di ulu hati, pedih...Perkiraanku meleset! Sekuat tenaga aku menahan butiran bening di pelupuk mata yang siap tumpah, buru-buru aku tutup buku tersebut.
“Jangan diliatin, tulisannya jelek...!” ucapnya sambil merebut buku yang ada di tanganku.
Ya Tuhan...entah terbuat dari apa hati anak kecil ini...Ia masih polos ketika harus menghadapi kehilangan demi kehilangan.
Dik ajarkan kakak untuk menjadi kuat sepertimu...
Bagaimana mungkin kamu sekuat itu mampu menyembunyikan luka tanpa pernah orang-orang disekitarmu mengetahuinya...? dalam diam...dalam ceriamu...tanpa air mata.

Banjarbaru, 10.15 pm
29 Jan 2013