Selasa, 28 Januari 2014

KETIKA AKU BERHENTI MENCINTAMU




Terlalu cepat semua berlalu…  dan kini kamu telah memiliki dunia baru yang takkan pernah dapat lagi ku jamah. Kisah kita kemarin telah kuletakkan dalam kotak yang bernama kenangan, kututup rapat agar tak ada celah untukku menengok lagi meski teramat ingin. Terkadang… ada saat aku ingin kembali ke waktu dimana langit mencurahkan kebahagian karena adanya kamu, tapi seperti yang kamu ketahui… waktu tak pernah mau kembali meski sedetikpun. Kini aku begitu dekat dengan kesepian, kepadanyalah aku menyembunyikan segala rasa yang tak dapat kuungkapkan kepada mereka.
Kumohon untuk saat ini jangan pernah menengok apalagi menanyakan kabar, karena hanya akan membuatku berdusta ketika kukatakan baik-baik saja. Pergilah sejauh yang kau mau bersama dia yang telah menjadi bahagiamu, cukup serahkan aku pada sang waktu yang kelak akan menghapus luka ini secara perlahan. Aku ingin meminta maaf terlebih dahulu, jika nanti… sesekali rindu itu menyapaku.
Akhirnya… Tuhan memilihkan jalan untuk kita masing-masing, sekian tahun aku menunggu, dan inilah jawabannya… bahwa betapapun aku menyayangi, aku tidak harus selalu ada di sisimu. Melepas kadang menjadi pilihan yang jauh lebih baik daripada mengenggam tapi justru menyakiti. Aku tak pernah meminta dipertemukan dengan orang sepertimu, meski begitu aku juga tak berhak menolak takdir tuhan atas pertemuan kita. Semakin aku mencari… semakin aku tak menemukan satu alasanpun yang membuatku menyesal dipertemukan dengan orang yang pernah menjadikan hidupku lebih bernyawa.
Kamu adalah hal terindah yang tak pernah ingin ku ingkari… layaknya pelangi disore hari yang jingga seusai gerimis menyapu bumi, seperti itulah aku ingin mengenangmu… mengenang dengan cara yang indah. Hingga nanti kita telah menua, jika waktu kembali berkenan mempertemukan… kita masih bisa saling tersenyum dan kuharap kita juga tak lupa bagaimana cara saling menyapa.
Segala harapan yang kutulis disepertiga malam ini adalah harapan yang juga kubisikkan pada-Nya ketika aku memutuskan untuk berhenti mencintai. Cukup hanya menyayangimu, sebagaimana saudara yang saling mendoakan meski berjauhan. Karena orang yang menyayangi konon tak pernah mengharap balasan apapun, yang ia tahu hanyalah mencurahi hal-hal yang baik kepada orang yang disayanginya tanpa mengenal kata tuntas. Sesederhana itu yang aku inginkan. Takkan ada lagi luka dan airmata kini, telah kutiadakan keinginan memiliki dan segala hasrat tentangmu. Begitu rumit memahami tentang kehidupan, terlalu sibuk bertanya mengapa padahal kita hanya perlu percaya dan meyakini bahwa rencana tuhan pastilah indah dan tak pernah salah.
Waktu tak pernah mengijinkan aku dan kamu menjadi “kita”, tuhanpun telah memilihkan siapa yang menjadi takdirmu. Sampai disini lah waktuku, sadar bahwa inilah saat untuk menyudahi semuanya. Tepat saat janji suci kau ikrarkan dihadapan-Nya… saat itu pula kurelakan sebagian dari hidupku pergi.
Aku masih bisa bernafas, menatap pagi, menikmati senja, berjalan dengan kaki yang siap melangkah kapanpun, aku akan tampak baik-baik saja bahkan aku masih bisa tersenyum dihadapan orang lain… hanya saja aku tak lagi merasa utuh. Seperti itulah… ketika aku berhenti mencintaimu.


Untukmu…
Yang telah halal baginya.

Banjarbaru 6.00 am
Minggu pagi 26 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar