Terlalu cepat semua berlalu…
dan kini kamu telah memiliki dunia baru yang takkan pernah dapat lagi ku
jamah. Kisah kita kemarin telah kuletakkan dalam kotak yang bernama kenangan,
kututup rapat agar tak ada celah untukku menengok lagi meski teramat ingin. Terkadang…
ada saat aku ingin kembali ke waktu dimana langit mencurahkan kebahagian karena
adanya kamu, tapi seperti yang kamu ketahui… waktu tak pernah mau kembali meski
sedetikpun. Kini aku begitu dekat dengan kesepian, kepadanyalah aku
menyembunyikan segala rasa yang tak dapat kuungkapkan kepada mereka.
Kumohon untuk saat ini jangan pernah menengok apalagi
menanyakan kabar, karena hanya akan membuatku berdusta ketika kukatakan
baik-baik saja. Pergilah sejauh yang kau mau bersama dia yang telah menjadi
bahagiamu, cukup serahkan aku pada sang waktu yang kelak akan menghapus luka
ini secara perlahan. Aku ingin meminta maaf terlebih dahulu, jika nanti…
sesekali rindu itu menyapaku.
Akhirnya… Tuhan memilihkan jalan untuk kita masing-masing,
sekian tahun aku menunggu, dan inilah jawabannya… bahwa betapapun aku
menyayangi, aku tidak harus selalu ada di sisimu. Melepas kadang menjadi
pilihan yang jauh lebih baik daripada mengenggam tapi justru menyakiti. Aku tak
pernah meminta dipertemukan dengan orang sepertimu, meski begitu aku juga tak berhak
menolak takdir tuhan atas pertemuan kita. Semakin aku mencari… semakin aku tak
menemukan satu alasanpun yang membuatku menyesal dipertemukan dengan orang yang
pernah menjadikan hidupku lebih bernyawa.
Kamu adalah hal terindah yang tak pernah ingin ku ingkari… layaknya
pelangi disore hari yang jingga seusai gerimis menyapu bumi, seperti itulah aku
ingin mengenangmu… mengenang dengan cara yang indah. Hingga nanti kita telah
menua, jika waktu kembali berkenan mempertemukan… kita masih bisa saling
tersenyum dan kuharap kita juga tak lupa bagaimana cara saling menyapa.
Segala harapan yang kutulis disepertiga malam ini adalah
harapan yang juga kubisikkan pada-Nya ketika aku memutuskan untuk berhenti
mencintai. Cukup hanya menyayangimu, sebagaimana saudara yang saling mendoakan
meski berjauhan. Karena orang yang menyayangi konon tak pernah mengharap balasan
apapun, yang ia tahu hanyalah mencurahi hal-hal yang baik kepada orang yang
disayanginya tanpa mengenal kata tuntas. Sesederhana itu yang aku inginkan.
Takkan ada lagi luka dan airmata kini, telah kutiadakan keinginan memiliki dan
segala hasrat tentangmu. Begitu rumit memahami tentang kehidupan, terlalu sibuk
bertanya mengapa padahal kita hanya perlu percaya dan meyakini bahwa rencana
tuhan pastilah indah dan tak pernah salah.
Waktu tak pernah mengijinkan aku dan kamu menjadi “kita”, tuhanpun
telah memilihkan siapa yang menjadi takdirmu. Sampai disini lah waktuku, sadar
bahwa inilah saat untuk menyudahi semuanya. Tepat saat janji suci kau ikrarkan
dihadapan-Nya… saat itu pula kurelakan sebagian dari hidupku pergi.
Aku masih bisa bernafas, menatap pagi, menikmati senja, berjalan
dengan kaki yang siap melangkah kapanpun, aku akan tampak baik-baik saja bahkan
aku masih bisa tersenyum dihadapan orang lain… hanya saja aku tak lagi merasa
utuh. Seperti itulah… ketika aku berhenti mencintaimu.
Untukmu…
Yang telah halal baginya.
Banjarbaru 6.00 am
Minggu pagi 26
Januari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar