“Saat
itu... saya masih sangat belia,usia saya 13 tahun. Tinggal bersama orang tua di
Yogyakarta, hingga suatu ketika tentara Jepang datang dan menyerbu Indonesia,
saya kemudian dipindahkan ke Telawang, Kalimantan. Di kota Telawang, saya
dimasukkan ke sebuah kamar dan disuruh untuk berdandan, kemudian dibawa ke kamp
sebuah rumah sakit militer. Betapa terkejut saya melihat ada sekitar 24 orang
tentara yang telah begitu bernafsu melampiaskan hasrat seksnya. Hari pertama
saya lalui, sejak pagi hingga pukul 14.00 sudah ada enam orang tentara yang
menggauli saya dengan paksa. Hati saya benar-benar terluka apalagi fisik saya,
hingga darah mengalir dari vagina… mereka, para tentara itu tetap saja tak
perduli. Menghadapi rasa sakit yang bertubi-tubi, saya merasa kian dekat dengan
kematian. Saat itu, mungkin kematian jauh lebih baik bagi saya daripada harus
hidup menjadi budak seks para tentara biadab. Namun Tuhan berkehendak lain, ia
masih menginginkan saya hidup bahkan sampai sekarang.
Untuk
bisa memakai perempuan yang dijadikan budak seks seperti saya, para tentara
memiliki prosedur tersendiri. Mereka harus membeli kupon dengan harga tertentu,
dan biasanya pada malam hari merupakan jatah bagi tentara dengan pangkat yang
lebih tinggi. Tak ada pilihan bagi perempuan seperti saya pada masa itu selain
menerima, jika menolak… maka berbagai kekerasan fisik seperti dipukul dan
dibanting menjadi hukuman dari penolakan yang kami lakukan. Para perempuan yang
dijadikan budak seks oleh tentara terjadi hingga bertahun-tahun, mereka akan
terus dipaksa melayani hingga benar-benar tidak bisa dipakai lagi, seperti jika
perempuan tersebut hamil atau (maaf) vaginanya telah rusak.
Di
usia 15 tahun, saya hamil dan oleh para tentara dibawa ke Rumah Sakit Ulin. Saya
pikir, mereka membawa saya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan namun
ternyata dengan pengawalan tentara kandungan saya justru digugurkan dengan cara
menekan-nekan perut saya, akhirnya janin sayapun keluar. Hanya berselang sebulan
setelah kejadian itu, saya kembali dipaksa melayani seks mereka. Saya mencoba
berontak namun mereka justru menghajar saya habis-habisan.”
Kisah diatas bukanlah
rekayasa, ini merupakan pengalaman hidup dari salah satu korban di masa
penjajahan Jepang dahulu. Konon, pada masa perang dunia ke-II dimana tentara
Jepang menguasai beberapa daerah termasuk Indonesia, mereka melakukan kekerasan
fisik dan seksual terhadap perempuan di daerah jajahan. Awalnya mereka
melakukan penipuan dengan menjanjikan pekerjaan atau pendidikan terhadap
korban, namun tak jarang mereka juga melakukan pemaksaan secara langsung. Para
budak seks di masa penjajahan Jepang dikenal dengan istilah jugun ianfu.
Dahulu, tepatnya ketika sekolah
dasar hingga SMA saya sama sekali tidak pernah mendengar istilah jugun ianfu, saya tidak menemukan kisah
mereka didalam pelajaran sejarah, padahal apa yang mereka alami merupakan salah
satu sejarah dari bangsa ini, mereka adalah saksi hidup dari sejarah kelam di
masa lalu. Mungkin karna terlalu kelam dan pahit sehingga tak layak untuk
diungkap kepada publik atau masyarakat luas, tapi bagaimanapun juga sebuah
sejarah tetaplah sejarah, sepahit apapun ia.
Mengapa saya mengangkat kisah
mereka? Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang menjadi korban
dari sejarah masa lalu, juga tidak bermaksud menyakiti atau menyinggung
perasaan mereka. Saya hanya ingin, kita sebagai bagian dari bangsa ini dapat
mengambil pelajaran dari kejadian di masa lalu… saya ingin mengajak orang-orang
melihat para korban, tidak hanya dengan mata tapi juga hati.
Banyak dari para jugun ianfu yang meninggal karena
kekerasan fisik dan seksual, namun ada segelintir dari mereka yang masih hidup
sampai sekarang. Jugun ianfu tidak
hanya berasal dari Indonesia tapi juga Korea,
Jepang,
Tiongkok,
Malaysia,
Singapura,
Thailand,
Filipina,
Myanmar,
Vietnam,
India,
serta orang Eropa
di beberapa daerah kolonial (Inggris, Belanda,
Perancis,
Portugis)
dan penduduk kepulauan Pasifik.
Dari banyaknya daerah diperkirakan korban mencapai ratusan ribu.
Beberapa korban di
Indonesia yang masih hidup, sampai saat ini masih berjuang menuntut keadilan
atas nasib yang menimpa mereka. Tak banyak sebenarnya yang mereka inginkan, inti
dari tuntutan mereka adalah agar nasib mereka lebih diperhatikan khususnya oleh
Jepang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi, selain itu agar bangsa
Jepang memohon maaf dan mengaku salah. Perjuangan para Jugun ianfu telah sampai ke Pengadilan
internasional dan beberapa korban telah memberikan kesaksian namun hingga saat
ini Jepang masih belum mengakui atas kejahatan yang mereka lakukan dimasa lalu
terhadap ribuan perempuan di Asia dan Belanda, selain itu mereka belum
memberikan konpensasi yang layak terhadap para korban.
Pertama kali saya mengetahui kisah
para Jugun ianfu dari sebuah acara
ditelevisi, kemudian beberapa saat yang lalu saya kembali membaca kisah mereka.
Sebuah kata yang terlintas pertama kali dipikiran adalah Tragis. Sungguh,
naluri saya sebagai seorang perempuan seakan terkoyak. Saya tak sanggup
membayangkan bagaimana kehidupan mereka, yang lebih membuat saya miris adalah
adanya masyarakat yang masih menganggap mereka sebagai pelacur sehingga banyak
dari mereka yang dikucilkan. Tak heran jika dari salah satu tuntutan mereka
terhadap pemerintah Indonesia dan Jepang agar memberikan penjelasan kepada
publik seperti dimasukkannya sejarah mereka kedalam kurikulum di sekolah, hal
ini dimaksudkan agar generasi muda mengerti dan mengetahui kebenaran sejarah.
Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa semasa sekolah dahulu saya memang tak
menemukan bahasan sejarah mengenai ini, entah bagaimana sekarang?
Menelusuri kisah-kisah
mereka, saya seakan ikut merasakan bagaimana rasa sakit dan luka yang mereka
alami. Salah satu korban yang berinisial “S” harus mengalami pelecehan seksual
dengan diperlakukan layaknya pelacur sejak umur 14 tahun, ia juga bagian dari
para korban yang ikut berjuang atas nasibnya namun sampai hembusan nafas
terakhir ia tak kunjung mendapat keadilan, tanggal 17 Maret 2006 ia meninggal
akibat stress berat yang diderita sehingga menyebabkan pendarahan, dan hal itu
terjadi saat usianya 80 tahun.
Jika ada masa dimana
para perempuan tak ingin diri mereka terlihat cantik, maka masa itu adalah masa
saat penjajahan Jepang. Seperti yang dilontarkan salah satu korban, pada saat
itu ia sampai berkata “Saya ingin kelihatan jelek…”, kita tentu bertanya
mengapa? Karena pada saat itu perempuan yang dianggap jelek tidak dibawa untuk
dijadikan budak seks. Sungguh ironis jika dibandingkan dengan sekarang, dimana
banyak perempuan menjadi sombong dengan kecantikan mereka tanpa pernah
menyadari bahwa terkadang kecantikan dapat membawa bencana.
Lewat tulisan ini, saya
hanya bisa berharap agar kita lebih membuka mata hati… agar kita mau belajar
meskipun dari sebuah sejarah kelam. Tidak semua sejarah yang layak diungkap
adalah sejarah yang hanya berisi hal-hal baik tapi terkadang ada kalanya kita
harus siap mengungkit sejarah buruk, ya seburuk dan sepahit apapun ia kita
harus siap menerima. Kita memang hidup tidak untuk masa lalu tapi setidaknya
dari masa lalu kita bisa membuat hidup yang akan datang menjadi lebih baik.
Rabu 18 Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar