Senin, 06 Januari 2014

JUGUN IANFU (Based on the true story)


“Saat itu... saya masih sangat belia,usia saya 13 tahun. Tinggal bersama orang tua di Yogyakarta, hingga suatu ketika tentara Jepang datang dan menyerbu Indonesia, saya kemudian dipindahkan ke Telawang, Kalimantan. Di kota Telawang, saya dimasukkan ke sebuah kamar dan disuruh untuk berdandan, kemudian dibawa ke kamp sebuah rumah sakit militer. Betapa terkejut saya melihat ada sekitar 24 orang tentara yang telah begitu bernafsu melampiaskan hasrat seksnya. Hari pertama saya lalui, sejak pagi hingga pukul 14.00 sudah ada enam orang tentara yang menggauli saya dengan paksa. Hati saya benar-benar terluka apalagi fisik saya, hingga darah mengalir dari vagina… mereka, para tentara itu tetap saja tak perduli. Menghadapi rasa sakit yang bertubi-tubi, saya merasa kian dekat dengan kematian. Saat itu, mungkin kematian jauh lebih baik bagi saya daripada harus hidup menjadi budak seks para tentara biadab. Namun Tuhan berkehendak lain, ia masih menginginkan saya hidup bahkan sampai sekarang.
Untuk bisa memakai perempuan yang dijadikan budak seks seperti saya, para tentara memiliki prosedur tersendiri. Mereka harus membeli kupon dengan harga tertentu, dan biasanya pada malam hari merupakan jatah bagi tentara dengan pangkat yang lebih tinggi. Tak ada pilihan bagi perempuan seperti saya pada masa itu selain menerima, jika menolak… maka berbagai kekerasan fisik seperti dipukul dan dibanting menjadi hukuman dari penolakan yang kami lakukan. Para perempuan yang dijadikan budak seks oleh tentara terjadi hingga bertahun-tahun, mereka akan terus dipaksa melayani hingga benar-benar tidak bisa dipakai lagi, seperti jika perempuan tersebut hamil atau (maaf) vaginanya telah rusak.
Di usia 15 tahun, saya hamil dan oleh para tentara dibawa ke Rumah Sakit Ulin. Saya pikir, mereka membawa saya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan namun ternyata dengan pengawalan tentara kandungan saya justru digugurkan dengan cara menekan-nekan perut saya, akhirnya janin sayapun keluar. Hanya berselang sebulan setelah kejadian itu, saya kembali dipaksa melayani seks mereka. Saya mencoba berontak namun mereka justru menghajar saya habis-habisan.”
Kisah diatas bukanlah rekayasa, ini merupakan pengalaman hidup dari salah satu korban di masa penjajahan Jepang dahulu. Konon, pada masa perang dunia ke-II dimana tentara Jepang menguasai beberapa daerah termasuk Indonesia, mereka melakukan kekerasan fisik dan seksual terhadap perempuan di daerah jajahan. Awalnya mereka melakukan penipuan dengan menjanjikan pekerjaan atau pendidikan terhadap korban, namun tak jarang mereka juga melakukan pemaksaan secara langsung. Para budak seks di masa penjajahan Jepang dikenal dengan istilah jugun ianfu.
Dahulu, tepatnya ketika sekolah dasar hingga SMA saya sama sekali tidak pernah mendengar istilah jugun ianfu, saya tidak menemukan kisah mereka didalam pelajaran sejarah, padahal apa yang mereka alami merupakan salah satu sejarah dari bangsa ini, mereka adalah saksi hidup dari sejarah kelam di masa lalu. Mungkin karna terlalu kelam dan pahit sehingga tak layak untuk diungkap kepada publik atau masyarakat luas, tapi bagaimanapun juga sebuah sejarah tetaplah sejarah, sepahit apapun ia.  
Mengapa saya mengangkat kisah mereka? Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang menjadi korban dari sejarah masa lalu, juga tidak bermaksud menyakiti atau menyinggung perasaan mereka. Saya hanya ingin, kita sebagai bagian dari bangsa ini dapat mengambil pelajaran dari kejadian di masa lalu… saya ingin mengajak orang-orang melihat para korban, tidak hanya dengan mata tapi juga hati.
Banyak dari para jugun ianfu yang meninggal karena kekerasan fisik dan seksual, namun ada segelintir dari mereka yang masih hidup sampai sekarang. Jugun ianfu tidak hanya berasal dari Indonesia tapi juga Korea, Jepang, Tiongkok, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Vietnam, India, serta orang Eropa di beberapa daerah kolonial (Inggris, Belanda, Perancis, Portugis) dan penduduk kepulauan Pasifik. Dari banyaknya daerah diperkirakan korban mencapai ratusan ribu.
Beberapa korban di Indonesia yang masih hidup, sampai saat ini masih berjuang menuntut keadilan atas nasib yang menimpa mereka. Tak banyak sebenarnya yang mereka inginkan, inti dari tuntutan mereka adalah agar nasib mereka lebih diperhatikan khususnya oleh Jepang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi, selain itu agar bangsa Jepang memohon maaf dan mengaku salah. Perjuangan para Jugun ianfu telah sampai ke Pengadilan internasional dan beberapa korban telah memberikan kesaksian namun hingga saat ini Jepang masih belum mengakui atas kejahatan yang mereka lakukan dimasa lalu terhadap ribuan perempuan di Asia dan Belanda, selain itu mereka belum memberikan konpensasi yang layak terhadap para korban.
Pertama kali saya mengetahui kisah para Jugun ianfu dari sebuah acara ditelevisi, kemudian beberapa saat yang lalu saya kembali membaca kisah mereka. Sebuah kata yang terlintas pertama kali dipikiran adalah Tragis. Sungguh, naluri saya sebagai seorang perempuan seakan terkoyak. Saya tak sanggup membayangkan bagaimana kehidupan mereka, yang lebih membuat saya miris adalah adanya masyarakat yang masih menganggap mereka sebagai pelacur sehingga banyak dari mereka yang dikucilkan. Tak heran jika dari salah satu tuntutan mereka terhadap pemerintah Indonesia dan Jepang agar memberikan penjelasan kepada publik seperti dimasukkannya sejarah mereka kedalam kurikulum di sekolah, hal ini dimaksudkan agar generasi muda mengerti dan mengetahui kebenaran sejarah. Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa semasa sekolah dahulu saya memang tak menemukan bahasan sejarah mengenai ini, entah bagaimana sekarang?
Menelusuri kisah-kisah mereka, saya seakan ikut merasakan bagaimana rasa sakit dan luka yang mereka alami. Salah satu korban yang berinisial “S” harus mengalami pelecehan seksual dengan diperlakukan layaknya pelacur sejak umur 14 tahun, ia juga bagian dari para korban yang ikut berjuang atas nasibnya namun sampai hembusan nafas terakhir ia tak kunjung mendapat keadilan, tanggal 17 Maret 2006 ia meninggal akibat stress berat yang diderita sehingga menyebabkan pendarahan, dan hal itu terjadi saat usianya 80 tahun.
Jika ada masa dimana para perempuan tak ingin diri mereka terlihat cantik, maka masa itu adalah masa saat penjajahan Jepang. Seperti yang dilontarkan salah satu korban, pada saat itu ia sampai berkata “Saya ingin kelihatan jelek…”, kita tentu bertanya mengapa? Karena pada saat itu perempuan yang dianggap jelek tidak dibawa untuk dijadikan budak seks. Sungguh ironis jika dibandingkan dengan sekarang, dimana banyak perempuan menjadi sombong dengan kecantikan mereka tanpa pernah menyadari bahwa terkadang kecantikan dapat membawa bencana.
Lewat tulisan ini, saya hanya bisa berharap agar kita lebih membuka mata hati… agar kita mau belajar meskipun dari sebuah sejarah kelam. Tidak semua sejarah yang layak diungkap adalah sejarah yang hanya berisi hal-hal baik tapi terkadang ada kalanya kita harus siap mengungkit sejarah buruk, ya seburuk dan sepahit apapun ia kita harus siap menerima. Kita memang hidup tidak untuk masa lalu tapi setidaknya dari masa lalu kita bisa membuat hidup yang akan datang menjadi lebih baik.


            Batu Ampar
Rabu 18 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar